Kendari (BDK Makassar) – Peran strategis guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dalam membentuk karakter dan moral peserta didik kembali mendapat penekanan kuat. Mengutip pandangan ahli Ilmu Jiwa Agama Prof. Dr. Zakiah Daradjat, diingatkan bahwa “mana mungkin sebuah bayangan bisa lurus jika tongkatnya bengkok.” Hal ini mengisyaratkan bahwa guru agama memegang peranan sebagai panutan dan suri teladan utama, baik di lingkungan sekolah maupun di tengah masyarakat.
Kehadiran guru agama di sekolah ditegaskan harus mampu memberikan dampak nyata dan diperhitungkan secara substansial, bukan sekadar menjadi pelengkap jam mengajar atau sekadar pengurus administrasi sertifikasi. Pembelajaran agama yang disampaikan pun tidak boleh sebatas transfer pengetahuan teknis ibadah semata, melainkan harus menjadi proses penghayatan dan pengamalan nilai-nilai secara nyata. Selain itu, para guru agama juga dituntut untuk memahami serta menerapkan prinsip moderasi beragama, serta menghindari penanaman fanatisme eksklusif kelompok tertentu.
Dalam upaya menjaga mutu pendidikan, sekolah-sekolah unggulan pemerintah, seperti halnya Sekolah Rakyat, harus dipastikan memiliki guru PAI yang benar-benar berkualifikasi tinggi. Kesejahteraan hidup di dunia dan akhirat sendiri hanya dapat dicapai melalui perpaduan antara keimanan, akhlak mulia, dan penguasaan ilmu pengetahuan.
Terkait standar kepemimpinan dan profesionalisme, Hj. Jumaing mengungkapkan bahwa terdapat tiga kompetensi utama yang harus dimiliki seorang pemimpin. Pertama adalah kompetensi Intelektual, yang menjadi persyaratan awal dalam proses asesmen atau pemilihan pimpinan. Kedua adalah kompetensi Sosial, yakni kemampuan berinteraksi dan beradaptasi dengan baik di dalam masyarakat. Ketiga adalah Loyalitas, yang mencakup kesetiaan kepada pimpinan serta kebijakan pemerintah, di mana aspek ini bersama kompetensi sosial menjadi poin penentu utama.
Menanggapi kebutuhan peningkatan kualitas tenaga pendidik tersebut, pihak Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) menyatakan komitmennya untuk selalu mendorong serta mendukung pelaksanaan diklat, baik secara online maupun offline. Meski demikian, mengingat pentingnya nilai interaksi sosial secara langsung, pembelajaran tatap muka (offline) tetap sangat dianjurkan jika kondisi memungkinkan.
Sementara itu, H. Jumaing, S.Ag turut mengimbau para guru untuk tidak cepat berpuas diri dan senantiasa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Sebagaimana ditegaskannya, “Menuntut ilmu dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT adalah kunci keselamatan serta peningkatan derajat di dunia dan akhirat.”