Mengasah Kemampuan Komunikasi, Peserta Pelatihan Public Speaking BDK Makassar Siap Terjun ke Masyarakat

BDK MAKASSAR – Balai Diklat Keagamaan Makassar tengah menyelenggarakan Pelatihan Teknis Public Speaking Angkatan III dan IV se-wilayah kerja BDK Makassar. Pelatihan yang berlangsung pada 20–31 Juli 2026 ini diikuti oleh 80 peserta dari unsur penyuluh dan penghulu. Di era digital saat ini, kemampuan berbicara di depan umum menjadi fondasi krusial bagi aparatur untuk memberikan penyuluhan moral dan etika keagamaan secara langsung kepada masyarakat.

Kepala BDK Makassar, Milawati, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan langkah nyata pengembangan kompetensi pegawai sesuai amanah KMA Nomor 605 Tahun 2026. “Pelatihan ini bukan sekadar seremonial. Kami ingin peserta menggali ilmu sedalam-dalamnya dari pengajar. Jadikan ini laboratorium untuk membentuk karakter berbicara yang kuat sebagai bekal berharga,” ujar Milawati. Ia juga menambahkan, “Begitu keluar dari pelatihan, ilmu ini harus langsung diimplementasikan. Jika seluruh sesi diikuti dengan sungguh-sungguh, hasilnya akan memberikan pencerahan yang berdampak luas di masyarakat.”

Melalui komitmen penuh dalam sesi praktik, para peserta akan memperoleh manfaat besar dari penguasaan empat materi inti berikut : 1. Teknik Dasar Public Speaking Meningkatkan rasa percaya diri secara drastis, mengatasi demam panggung (mental block), serta mendesain alur ide yang sistematis agar pesan keagamaan mudah dipahami audiens. 2. Kompetensi Pembicara: Membentuk figur pembicara yang kredibel melalui kemampuan analisis audiens, kedalaman materi, dan kepekaan membaca situasi forum di berbagai lapisan masyarakat. 3. Komunikasi Verbal dan Nonverbal, Menyelaraskan artikulasi, intonasi, kontak mata, dan bahasa tubuh (gesture) agar pesan edukasi keagamaan tersampaikan dengan sentuhan emosi yang tulus dan menyentuh hati. 4. Klasifikasi Aktivitas Penataan Acara, Membekali peserta keterampilan adaptif untuk menempatkan diri di berbagai jenis forum, baik sebagai pemateri, sambutan resmi, maupun pemandu acara (master of ceremony).

Dengan menguasai seluruh materi tersebut, peserta diharapkan menjadi agen perubahan yang terampil berkomunikasi demi mengedukasi masyarakat secara inklusif.

Categories Berita

Leave a Comment

×
Slide 1 Slide 2 Slide 3