TAKALAR (Humas BDK Makassar) — Kabupaten Takalar resmi mencatatkan diri sebagai daerah kedua di Sulawesi Selatan yang memfasilitasi peningkatan kapasitas tenaga laboratorium Pendidikan Agama Islam (PAI) dan pengelola perpustakaan sekolah. Langkah konkret ini menjadi momentum penting untuk membongkar pola lama dan mendorong revitalisasi sarana belajar agar tidak sekadar menjadi ruangan pelengkap, melainkan pusat pembentukan karakter dan kompetensi siswa.

Kegiatan strategis ini dibuka secara resmi oleh Kepala Balai Diklat Keagamaan (BDK) Makassar, Hj. Milawati, S.Ag., M.Pd.I. Dalam sambutan pembukaannya, ia menegaskan pentingnya perubahan nyata pascapelatihan di setiap satuan pendidikan. “Pelatihan ini bukan sekadar formalitas menggugurkan kewajiban pengembangan kompetensi, melainkan harus melahirkan perubahan nyata di sekolah masing-masing. Laboratorium PAI dan perpustakaan tidak boleh lagi mati suri atau sekadar jadi ruangan pelengkap. Manfaatkan setiap ilmu dari widyaiswara, bangun jejaring, dan segera wujudkan ruang praktik ibadah yang aktif bagi peserta didik meski harus menggunakan ruang sementara terlebih dahulu,” tegas Milawati di hadapan para peserta.Transformasi tersebut sejalan dengan amanat Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 605 tentang Pengembangan Kompetensi Pegawai.

Pengelola perpustakaan dan laboratorium dituntut menghadirkan ekosistem belajar yang hidup, adaptif, serta memfasilitasi implementasi materi ajar secara aplikatif.Lebih lanjut ditekankan bahwa guru dan tenaga kependidikan PAI kerap menyandang predikat “manusia super” lantaran bernaung di bawah dua induk sekaligus—Dinas Pendidikan yang menaungi administrasi kepegawaian dan penggajian, serta Kementerian Agama yang membawahkan pembinaan profesi dan sertifikasi keilmuan. Posisi unik berinduk ganda ini menuntut dedikasi dan profesionalisme ganda pula dalam mengawal mutu pembelajaran.

Untuk merealisasikan perubahan tersebut, para peserta dibekali beberapa langkah taktis:

  1. Revitalisasi Ruang Praktik dan Perpustakaan: Pengelola didorong segera berbenah. Keterbatasan sarana bukan penghalang; pemanfaatan ruangan sementara yang dimaksimalkan untuk praktik ibadah dinilai jauh lebih bernilai dibanding membiarkan materi agama sebatas hafalan teoritis.
  2. Komunikasi Proaktif dengan Pimpinan: Peserta diinstruksikan aktif berkoordinasi serta menyampaikan rencana aksi dan rancangan pengembangan laboratorium kepada kepala sekolah dan pengawas binaan masing-masing.
  3. Pengembangan Jejaring Berkelanjutan: Menggali keilmuan secara tuntas dari para widyaiswara serta aktif bertukar praktik baik antar-sekolah demi menciptakan standarisasi ruang laboran PAI yang ideal.

Guna menjawab tantangan efisiensi anggaran dan fleksibilitas waktu, pola pengembangan kompetensi kini diperluas melalui ragam skema—mulai dari Pelatihan Jarak Jauh (PJJ), Pelatihan di Wilayah Kerja (PDWK), hingga metode blended learning.Terobosan ini juga diintegrasikan dengan paradigma Kurikulum Berbasis Cinta (KBC). Melalui pendekatan panca cinta, guru PAI diarahkan menumbuhkan kesadaran spiritual dan emosional peserta didik: mencintai Tuhan Sang Pencipta, Rasul, ilmu pengetahuan, sesama manusia, hingga menjaga kelestarian alam melalui wawasan ekoteologi.Melalui pelatihan ini, laboratorium PAI dan perpustakaan sekolah di Kabupaten Takalar diharapkan segera bertransformasi: dari sudut ruangan yang sunyi menjadi episentrum pembelajaran yang melahirkan generasi cerdas, religius, dan berkarakter mulia.

Categories Berita

Leave a Comment

×
Slide 1 Slide 2 Slide 3