KENDARI (BDK Makassar) – Perubahan teknologi dan derasnya arus informasi membawa tantangan baru bagi dunia pendidikan. Kehadiran kecerdasan buatan (AI), penyebaran hoaks, hingga munculnya echo chamber membuat guru dituntut tidak berhenti belajar agar tetap mampu memberikan arah kepada peserta didik.

Pesan itu disampaikan Kepala Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM) Kementerian Agama RI, H. Muhammad Ali Ramdhani, saat membuka Pelatihan Laboran Pendidikan Agama Islam dan Pelatihan Teknis Manajemen Perpustakaan bagi 94 Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) se-Provinsi Sulawesi Tenggara di Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Sulawesi Tenggara, Kendari, Rabu (9/9/2026).

Ramdhani mengatakan, guru yang memilih untuk terus belajar sesungguhnya sedang mempersiapkan masa depan, bukan hanya bagi dirinya, tetapi juga bagi peserta didik yang dididiknya.

Ia kemudian mengutip nasihat orang tuanya yang hingga kini terus diingatnya.

“Orang yang terpelajar hanyalah pemilik masa lalu, dan orang yang terus belajar yang akan menjadi pemilik masa depan,” ujar Ramdhani.

Menurutnya, semangat belajar menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari profesi guru. Ketika seorang guru berhenti memperbarui pengetahuan dan kemampuannya, maka ia akan kesulitan menjawab perubahan yang terjadi di lingkungan peserta didik.

“Berhentinya proses belajar bagi seorang guru adalah kematian hakiki dari profesinya,” tegasnya.

Ramdhani menilai tantangan guru saat ini tidak lagi sederhana. Peserta didik hidup dalam lingkungan yang dipenuhi informasi dan teknologi yang berkembang sangat cepat. Karena itu, guru tidak cukup hanya menyampaikan materi, tetapi juga harus membantu anak memahami, menyaring, dan menyikapi informasi dengan tepat.

Dalam konteks tersebut, ia mengajak guru PAI melihat kembali makna profesinya sebagai pendidik.

“Guru itu terdiri dari dua kata, gu itu adalah kegelapan dan ru itu adalah penerang. Jadi, ibu dan bapak adalah orang-orang yang menerangi kegelapan. Maka hadirlah sebagai cahaya,” katanya.

Menurut Ramdhani, menjadi “cahaya” berarti guru harus memiliki kompetensi yang kuat. Ia menyebut empat kompetensi yang perlu terus dikembangkan, yakni pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional.

Pada kompetensi pedagogik, guru harus mampu mengenali peserta didik, memahami pola tumbuh kembang, serta menyesuaikan metode pembelajaran dengan kebutuhan anak.

Ramdhani mencontohkan pola pengasuhan yang sering kali secara tidak sadar membuat anak terbiasa mencari pihak lain untuk disalahkan ketika menghadapi masalah. Ia mengingatkan bahwa pendidikan seharusnya membangun keberanian anak untuk mengenali kesalahan dan memperbaikinya.

“Kalau kita selalu memproteksi dan melindungi anak-anak kita dari ruang-ruang yang tidak boleh dikritik, maka ketika dia salah, dia tidak akan pernah memperbaiki dirinya, kecuali menyalahkan pihak lain,” ujarnya.

Karena itu, pendidikan menurutnya tidak bisa hanya dibebankan kepada guru PAI. Pembentukan karakter anak membutuhkan keterlibatan orang tua, sekolah, dan masyarakat.

“Tidak fair kalau kemudian pendidikan karakter hanya menjadi tanggung jawab guru PAI. Guru PAI memang bertanggung jawab, tetapi kalau semuanya dibebankan pada guru PAI, menurut saya tidak fair,” jelasnya.

Ia mendorong terbentuknya ekosistem pendidikan yang melibatkan berbagai pihak agar proses pembentukan karakter dan kecerdasan peserta didik dapat dilakukan secara bersama-sama.

Selain pedagogik, Ramdhani menekankan pentingnya kompetensi kepribadian. Guru PAI, kata dia, membawa nama agama dalam profesinya sehingga keteladanan menjadi bagian yang sangat penting.

“Guru agama menyandang nama agama di dalam profesinya. Jagalah baik-baik,” pesannya.

Ia mengingatkan agar guru menjaga keselarasan antara perkataan dan perbuatan. Sebab, guru merupakan sosok yang menjadi rujukan peserta didik, terutama dalam memahami nilai-nilai agama.

“Tidak pernah sebuah niat yang baik akan diterima dengan baik apabila caranya buruk. Kita adalah seorang guru, digugu dan ditiru. Kita adalah model kehidupan bagi anak-anak kita,” tuturnya.

Karena itu, Ramdhani mengajak guru PAI membangun pendekatan pendidikan yang ramah dan manusiawi.

“Dia yang tak pernah menghina kecuali membina, dia yang tak pernah mencerca kecuali mencinta, dia tidak pernah menghajar kecuali mengajar, dia tidak pernah membidik kecuali mendidik, dan dia selalu merangkul tanpa pernah mengukur,” katanya.

Kompetensi sosial juga dinilai penting untuk membangun hubungan yang sehat antara guru, peserta didik, orang tua, dan masyarakat. Ramdhani berharap sekolah dan madrasah dapat menjadi rumah kedua bagi siswa, tempat mereka mendapatkan layanan pendidikan sekaligus rasa aman dan nyaman.

Menurutnya, hubungan baik antara guru dan peserta didik bahkan dapat menjadi bekal yang terus terbawa hingga mereka dewasa.

“Kemuliaan Anda itu terletak dari siswa-siswa ini, yang kelak menjadi pemimpin bangsa kita. Peliharalah bangunan itu, doakan mereka dengan baik, dan mereka pun akan pasti berdoa dengan baik pada kita,” ungkapnya.

Sementara itu, kompetensi profesional menuntut guru mampu bersikap adil dan proporsional serta memahami kebutuhan peserta didik yang beragam. Guru perlu menguasai pendekatan pembelajaran yang sesuai agar setiap anak memperoleh kesempatan berkembang secara optimal.

Ramdhani juga menegaskan bahwa pelatihan yang diikuti para guru PAI bukan sekadar untuk mengejar sertifikasi. Menurutnya, kegiatan tersebut harus menjadi bagian dari upaya memperluas pengetahuan dan memperkuat pengabdian seorang guru.

“Saya hanya menitipkan kesan bahwa kegiatan ini bukan semata-mata untuk memenuhi sertifikasi, tetapi ini adalah bagian dari perluasan hikmah kita sebagai seorang guru,” ujarnya.

Pelatihan tersebut merupakan kerja sama antara Dewan Pengurus Wilayah Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia (DPW AGPAII) Sulawesi Tenggara, Balai Diklat Keagamaan (BDK) Makassar, Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Sulawesi Tenggara, dan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Tenggara.

Ramdhani mengapresiasi para guru yang bersedia meluangkan waktu, tenaga, dan biaya untuk meningkatkan kapasitas diri. Menurutnya, kemauan untuk kembali belajar menunjukkan bahwa seorang guru tidak terjebak dalam zona nyaman.

“Pengorbanan Anda sungguh luar biasa. Mengeluarkan uang untuk melakukan peningkatan kapasitas diri pasti berat, tetapi karena keyakinan hal itu akan kembali kepada Anda dalam bentuk ilmu dan kemuliaan-kemuliaan lain, maka Anda berani berkorban untuk itu semua,” katanya.

Di tengah perubahan teknologi yang semakin cepat, pesan tersebut menjadi penting. Guru PAI tidak hanya dituntut menguasai pengetahuan keagamaan, tetapi juga perlu terus memperbarui kemampuan agar mampu mendampingi peserta didik menghadapi dunia yang terus berubah.

Dengan kompetensi yang kuat dan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari, guru diharapkan mampu menjalankan perannya sebagai pendidik yang memberi arah, membangun karakter, sekaligus menjadi cahaya bagi generasi muda.

Di akhir arahannya, Ramdhani secara resmi membuka Pelatihan Laboran Pendidikan Agama Islam dan Pelatihan Teknis Manajemen Perpustakaan bagi Guru PAI se-Provinsi Sulawesi Tenggara.

Categories Berita

Leave a Comment

×
Slide 1 Slide 2 Slide 3