BDK MAKASSAR — Sinergi strategis antara Balai Diklat Keagamaan (BDK) Makassar dan Dewan Pengurus Daerah Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam Indonesia (AGPAII) membuahkan hasil nyata. Melalui kemitraan kolaboratif, pelatihan teknis bagi pengelola Laboratorium Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Kepala Perpustakaan resmi ditutup dengan capaian kelulusan 100 persen bagi seluruh peserta angkatan ini.
Program pelatihan ini merupakan implementasi nyata amanat regulasi perundang-undangan terkait kewajiban peningkatan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan berkelanjutan. Masing-masing bidang ditempa dengan kurikulum intensif, mencakup 12 jam pelatihan teknis pengelolaan Laboratorium PAI serta 12 jam manajerial tata kelola dan otomasi perpustakaan sekolah.
Dari Ruang Praktik Menuju Pembiasaan Ibadah
Kegiatan pelatihan ini ditutup secara resmi oleh Kepala Seksi (Kasi) Pendidikan Agama Islam (PAI) Kantor Kementerian Agama Kabupaten Takalar, Dra. Hj. Kartini. Dalam arahannya, ia menyampaikan apresiasi mendalam kepada BDK Makassar dan jajaran pengurus AGPAII yang bergerak cepat memfasilitasi peningkatan kompetensi para guru dan tenaga kependidikan hingga tersisa sebagian kecil saja yang belum tersentuh pelatihan.
Di hadapan para peserta, Hj. Kartini mewanti-wanti agar ilmu dan keterampilan yang diperoleh tidak sekadar menjadi lembaran sertifikat formalitas, melainkan diaplikasikan secara nyata di satuan pendidikan masing-masing.
“Tujuan utama pelatihan ini adalah bagaimana ilmunya dipraktikkan langsung di sekolah. Jangan sampai ada laboratorium PAI yang sarananya memadai tetapi mati suri, sementara di sisi lain masih ada peserta didik yang belum memahami tata cara wudhu yang benar, belum tertib praktik salatnya, atau belum lancar mengaji. Mengantisipasi hal inilah yang menjadi tanggung jawab moral kita bersama,” tegas Dra. Hj. Kartini saat memberikan sambutan penutupan.
Ia menegaskan, penguasaan laboratorium PAI harus menjadi kawah candradimuka pembinaan keagamaan siswa. Pengelola laboran dituntut profesional dan terampil merancang media peraga interaktif, sehingga literasi ibadah dasar—mulai dari taharah, kesempurnaan salat berjemaah, hingga tadarus Al-Qur’an—dikuasai tuntas oleh peserta didik.
Perpustakaan sebagai Jantung Literasi Madrasah dan Sekolah
Selain penguatan laboratorium ibadah, pelatihan manajemen perpustakaan sekolah diarahkan untuk mentransformasi ruang baca konvensional menjadi pusat sumber belajar yang adaptif dan inklusif. Kepala perpustakaan yang telah tersertifikasi dibekali kemampuan kurasi referensi materi ajar, katalogisasi digital, dan strategi menumbuhkan minat baca siswa di tengah gempuran era gawai.
Keberhasilan seluruh peserta merampungkan seluruh modul dan evaluasi pelatihan menjadi bukti tingginya komitmen para pendidik di lapangan.
“Alhamdulillah, angkatan ini dinyatakan lulus seratus persen berkat kerja sama dan keterlibatan aktif semua pihak. Kini tugas utama menanti di sekolah masing-masing: tolong aplikasikan betul-betul apa yang telah dipelajari. Hidupkan laboratorium dan perpustakaan kita agar anak-anak didik tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga kukuh akidah dan akhlaknya,” pungkasnya.