Sinergi Moderasi Beragama dan Ekoteologi: BDK Makassar Gelar Workshop Solusi Krisis Lingkungan dan Pencegahan Konflik

BDK Makassar – Balai Diklat Keagamaan Makassar resmi membuka Workshop Moderasi Beragama dan Ekoteologi di Aula Syekh Yusuf pada Senin (25/05/2026). Kegiatan strategis ini dibuka langsung oleh Kepala BDK Makassar, Hj. Milawati.

Dalam arahannya, Hj. Milawati menyampaikan apresiasi terdalam kepada seluruh pihak yang telah mendukung terlaksananya workshop ini, khususnya di tengah tantangan efisiensi anggaran yang saat ini berdampak pada dinamika kegiatan pelatihan. “Meskipun kita diperhadapkan pada efisiensi anggaran, semangat untuk berinovasi tidak boleh surut. Fokus utama program ini sangat krusial, yaitu menyinergiskan nilai-nilai keimanan dengan kesadaran menjaga kelestarian lingkungan di tengah krisis iklim, sekaligus menanamkan toleransi dan harmoni antarumat beragama,” ujar Hj. Milawati.

Workshop ini menghadirkan para pakar yang membedah pentingnya pendekatan teologi lingkungan dalam bingkai moderasi. Dr. H. Jafar memaparkan materi mengenai Sinergi Sosial dan Lingkungan. Dalam pandangannya, ekoteologi diposisikan secara menarik sebagai “kawan main” dari moderasi beragama. “Menjaga alam dan lingkungan adalah bentuk ibadah yang melampaui batas-batas sektarian dan sekat agama. Isu bersama ini sangat relevan untuk merespons tantangan zaman terkait kerusakan lingkungan sekaligus meredam potensi konflik sosial,” jelas Dr. H. Jafar.

Di sisi lain, Dr. Saprillah menekankan pentingnya langkah konkret implementasi di lapangan. Beliau menjelaskan bahwa Kementerian Agama terus mendorong internalisasi ekoteologi dan wawasan moderasi beragama secara masif kepada masyarakat luas. “Langkah integrasi ini diharapkan mampu membentuk karakter masyarakat yang inklusif, toleran, dan dapat menjadi panutan (role model) yang selaras dengan gerakan pelestarian alam demi menjawab tantangan krisis lingkungan global,” urai Dr. Saprillah.

Melalui pendekatan ekoteologi, BDK Makassar berupaya mengintegrasikan teologi agama dengan aksi nyata pelestarian lingkungan. Workshop ini diharapkan melahirkan agen-agen perubahan yang mampu menjadikan isu lingkungan sebagai jembatan pemersatu, memperkuat toleransi, serta menjadi solusi konkret dalam mencegah konflik sosial di masyarakat.

Categories Berita

Leave a Comment

×
Slide 1 Slide 2 Slide 3